- Di antara Jalan Rezeki lainnya adalah Jalan Berinfaq/sedekah.
sebuah upaya untuk mengingatkan
Ketahuilah, ujian dan cobaan di dunia merupakan sebuah keharusan, siapa pun tidak bisa terlepas darinya. Bahkan, itulah warna-warni kehidupan. Kesabaran dalam menghadapi ujian dan cobaan merupakan tanda kebenaran dan kejujuran iman seseorang kepada Allah SWT
Sesungguhnya ujian dan cobaan yang datang bertubi-tubi menerpa hidup manusia merupakan satu ketentuan yang telah ditetapkan oleh Allah Azza wa Jalla. Tidak satu pun diantara kita yang mampu menghalau ketentuan tersebut.
Keimanan, keyakinan, tawakkal dan kesabaran yang kokoh amatlah sangat kita butuhkan dalam menghadapi badai cobaan yang menerpa. Sehingga tidak menjadikan diri kita berburuk sangka kepada Allah SWT terhadap segla Ketentuan-Nya.
Oleh karena itu, dalam keadaan apapun, kita sebagai hamba yang beriman kepada Allah SWT harus senantiasa berbaik sangka kepada Allah. Dan haruslah diyakini bahwa tidaklah Allah menurunkan berbagai musibah melainkan sebagai ujian atas keimanan yang kita miliki. Allah sebagaimana tertulisa dalam firman-Nya : “Apakah kalian mengira bahwa kalian akan masuk ke dalam surga, padahal belum datang kepada kalian (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kalian? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam goncangan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang bersamanya : Bilakah datang pertolongan Allah? Ingatlah sesungguhnya pertolongan Allah amatlah dekat.” (QS. Al Baqarah : 214)
Kesabaran merupakan perkara yang amat dicintai oleh Allah dan sangat dibutuhkan seorang muslim dalam menghadapi ujian atau cobaan yang dialaminya. Sebagaimana dalam firman-Nya : “…Allah mencintai orang-orang yang sabar.” (QS. Al Imran : 146)
Macam-Macam Kesabaran
Ibnul Qoyyim mengatakan dalam Madarijus Salikin : “Sabar adalah menahan jiwa dari keluh kesah dan marah, menahan lisan dari mengeluh serta menahan anggota badan dari berbuat tasywisy (tidak lurus). Sabar ada tiga macam, yaitu sabar dalam berbuat ketaatan kepada Allah, sabar dari maksiat, dan sabar dari cobaan Allah.”
Oleh karena itu sabar dibagi menjadi tiga tingkatan :
1. Sabar dari meninggalkan kemaksiatan karena takut ancaman Allah, Kita harus selalu berada dalam keimanan dan meninggalkan perkara yang diharamkan. Yang lebih baik lagi adalah, sabar dari meninggalkan kemaksiatan karena malu kepada Allah. Apabila kita mampu muraqabah (meyakini dan merasakan Allah sedang melihat dan mengawasi kita) maka sudah seharusnya kita malu melakukan maksiat, karena kita menyadari bahwa Allah SWT selalu melihat apa yang kita kerjakan. Sebagaimana tertulis dalam firman-Nya, di surah Al Hadid ayat 4 ” ........ Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan”
2. Tingkatan sabar yang kedua adalah sabar dalam melaksanakan ketaatan kepada Allah, dengan terus-menerus melaksanakannya, memelihara keikhlasan dalam mengerjakannya dan memperbaikinya. Dalam menjalankan ketaatan, tujuannya hanya agar amal ibadah yang dilakukan diterima Allah, tujuannya semata-mata ikhlas karena Allah SWT.
Ada Beberapa Hal Yang Akan Menuntun Seorang Hamba Untuk Bisa Sabar Dalam Menghadapi Ujian Dan Cobaan, Sebagai Berikut :
1. Sebaiknya kita merenungkan dosa-dosa yang telah kita lakukan. Dan Allah menimpakan ujian atau musibah-musibah tersebut mungkin disebabkan dosa-dosa kita . Sebagaimana firman Allah SWT : “Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).” (Asy Syuro : 30).
Apabila seorang hamba menyadari bahwa musibah-musibah yang menimpa disebabkan oleh dosa-dosanya. Maka dia akan segera bertaubat dan meminta ampun kepada Allah dari dosa-dosa yang telah dilakukannya
Dan Nabi Muhammad saw bersabda: “Tak seorang muslim pun yang ditimpa gangguan semisal tusukan duri atau yang lebih berat daripadanya, melainkan dengan ujian itu Allah menghapuskan perbuatan buruknya serta menggugurkan dosa-dosanya sebagaimana pohon kayu yang menggugurkan daun-daunnya.” (HR Bukhari dan Muslim). Jadi ujian dan cobaan, bisa sebagai penggugur dosa-dosa kita dan juga untuk mengangkat kita ke derajat keimanan yang lebih tinggi.
2.. Kita harus menyakini dengan seyakin-yakinnya, bahwa Allah selalu ada bersama kita. Dan Allah telah memberikan jaminan untuk kita dalam surah Al Baqarah ayat 286, bahwa ” Allah tidak akan membebani seseorang melainkan sesuai kesanggupannya. Dan Allah cinta dan ridha kepada orang yang sabar. Sebagaimana ditegaskan dalam firman-Nya sbb: dan sabarlah sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar. (QS Al Anfal : 46) Dan Firman-Nya : “…Dan Allah mencintai orang-orang yang sabar.” (QS.Al Imran : 146)
Bersabarlah maka kita akan melihat betapa dekatnya kelapangan
Barangsiapa yang muraqabah (merasa diawasi) Allah dalam seluruh urusan, ia akan menjadi hamba Allah yang sabar dan berhasil melalui ujian apapun dalam hidupnya. Kesabaran yang didapatkan ini, berdasarkan pada petunjuk Allah dalam Al Quran, surah At Thur ayat 48 : Dan bersabarlah dalam menunggu ketetapan Tuhanmu, maka sesungguhnya kamu berada dalam penglihatan Kami, dan bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu ketika kamu bangun berdiri”
Dan ketahuilah, bahwa barangsiapa yang mengharapkan Allah, maka Allah akan ada dimana dia mengharap.
3. Kita harus mengetahui bahwa jika kita bersabar, maka akan mendatangkan ridha Allah, karena ridha Allah SWT, terdapat dalam kesabaran kita, terhadap segala ujian dan ketentuan takdir-Nya, yang kurang kita sukai.
Keutamaan Sabar
Sabar memiliki kedudukan tinggi yang mulia dalam agama Islam. Oleh karena itu, Al Imam Ibnul Qayyim mengatakan bahwa sabar setengah dari keimanan dan setengahnya lagi adalah syukur. Lebih jelasnya, akan diuraikan beberapa penyebutan ash-shabr dalam Al Qur’an dengan uraian yang ringkas sebagai berikut:
1. Sabar Merupakan Perintah Mulia Dari Rabb Yang Maha Mulia
Allah SWT berfirman : “Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar,..” (QS. Al-Baqarah: 153)
dalam ayat yang lain Allah SWT berfirman: “Wahai orang-orang yang beriman bersabarlah dan kuatkanlah kesabaranmu,..…” (QS.Ali Imran: 200)
Konteks (kandungan) dari kedua ayat diatas menerangkan bahwa sabar merupakan perintah dari Allah SWT. Sabar termasuk ibadah dari ibadah-ibadah yang Allah wajibkan kepada hamba-Nya. Terlebih lagi, Allah SWT kuatkan perintah sabar tersebut dalam ayat yang kedua. Barangsiapa yang memenuhi kewajiban itu, berarti ia telah menduduki derajat yang tinggi di sisi Allah SWT
2. Pujian Allah SWT Terhadap Orang-Orang Yang sabar
Allah SWT memuji mereka sebagai orang-orang yang benar dalam keimanannya. Sebagaimana firman-Nya: “….. dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang yang benar (imannya). Dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 177)
Dalam kitab Madarijus Salikin 2/152 Al Imam Ibnul Qayyim, mengutarakan bahwa ayat yang seperti ini banyak terdapat dalam Al Qur’an. Sehingga keberadaan sabar dalam menghadapi ujian dan cobaan dari Allah adalah benar-benar menjadi barometer keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT.
3. Mendapat Kecintaan Dari Allah SWT
Semua orang yang beriman berharap menjadi golongan orang-orang yang dicintai oleh Allah SWT. Dan Allah mengabarkan kepada hamba-Nya bahwa golongan yang mendapatkan kecintaan-Nya adalah orang-orang yang sabar terhadap ujian dan cobaan dari-Nya. Sebagaimana ditegaskan dalam firman-Nya
“…....., dan Allah itu menyukai/mencintai orang-orang yang sabar.” (QS. Ali Imran: 146)
.Dan Allah selalu bersama orang-orang yang sabar, seperti tertulis dalam firman-Nya: “…..…dan bersabarlah, sesungguhnya Allah bersama dengan orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Anfal: 46)
Yang dimaksud dengan Allah bersama orang-orang yang sabar adalah penjagaan dan pertolongan Allah SWT selalu menyertai orang-orang yang sabar. Sebagaimana pula diterangkan dalam hadits berikut ini:
“Ketahuilah olehmu! Bahwasannya datangnya pertolongan itu bersama dengan kesabaran.” (HR. At Tirmidzi, dari shahabat Ibnu ‘Abbas ra)
4.. Shalawat, Rahmat dan Hidayah Bersama Orang Yang Sabar
Allah SWT senantiasa mencurahkan shalawat, rahmat dan hidayah-Nya kepada orang-orang yang sabar. Karena jika mereka ditimpa ujian dan cobaan dari Allah mereka kembalikan urusannya kepada Sang Pencipta, yang memilikinya.
Sifat mulia yang dimiliki orang yang sabar ini dikisahkan oleh Allah dalam firman-Nya disurah Al Baqarah, ayat 156-157 : “orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: "Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun (esungguhnya kami adalah milik Allah dan hanya kepada-Nya-lah kami kembal). Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.”
Atas dasar ini, bila kita ditimpa musibah baik besar maupun kecil, dianjurkan mengucapkan kalimat ini, dan ini yang dinamakan dengan kalimat istirja’ (pernyataan kembali kepada Allah SWT). Kalimat istirja’ akan lebih sempurna lagi jika ditambah setelahnya dengan do’a yang diajarkan oleh baginda Nabi Muhammad saw sebagai berikut :“Ya Allah, berilah ganjaran atas musibah yang menimpaku dan gantilah musibah itu yang lebih baik bagiku.”
Barangsiapa yang membaca kalimat istirja’ dan berdo’a dengan do’a di atas niscaya Allah SWTakan menggantikan musibah yang menimpanya dengan sesuatu yang lebih baik. (Hadits riwayat Al Imam Muslim 3/918 dari shahabiyah Ummu Salamah.)
Suatu ketika Ummu Salamah ditinggal suaminya Abu Salamah yang mati syahid di
5.. Mendapatkan Ganjaran Yang Lebih Baik Dari Amalannya
Allah SWT memberikan ganjaran bagi orang yang sabar melebihi usaha atau amalan yang ia lakukan. Sebagaimana firman-Nya :
“……Akan tetapi jika kamu bersabar, sesungguhnya itulah yang lebih baik bagi orang-orang yang sabar. “ (An Nahl: 126)
Dalam ayat lainnya, Allah SWT menjanjikan akan memberikan jaminan kepada orang yang sabar dengan ganjaran tanpa hisab (tanpa batas). Sebagaimana firman-Nya : “Katakanlah: "Hai hamba-hamba-Ku yang beriman. bertakwalah kepada Tuhanmu." Orang-orang yang berbuat baik di dunia ini memperoleh kebaikan. Dan bumi Allah itu adalah luas. Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas. (Az Zumar: 10)
6.. Mendapat Ampunan Dari Allah SWT
Selain Allah memberikan ganjaran yang lebih baik dari amalannya kepada orang yang sabar, Allah juga memberikan ampunan kepada mereka. Sebagaimana tertulis dalam firman-Nya : ”kecuali orang-orang yang sabar (terhadap bencana), dan mengerjakan amal-amal saleh; mereka itu beroleh ampunan dan pahala yang besar”. (Hud: 11)
Dari ’Aisyah, beliau berkata: “Rasulullah saw bersabda: “Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa seorang muslim, melainkan Allah SWT telah menghapus dengan musibah itu dosanya. Meskipun musibah itu adalah duri yang menusuk dirinya.” (HR. Al-Bukhari no. 3405 dan Muslim 140-141/1062)
7.. Mendapat Martabat Tinggi Di Dalam Surga
Anugerah yang lebih besar bagi orang-orang yang sabar adalah berhak mendapatkan martabat yang tinggi dalam Surga. Allah SWT berfirman : “Mereka itulah orang yang dibalasi dengan martabat yang tinggi (dalam syurga) karena kesabaran mereka dan mereka disambut dengan penghormatan dan ucapan selamat di dalamnya. (Al Furqaan: 75)
8.. Sabar Adalah Jalan Terbaik
Semua uraian di atas menunjukkan bahwa sabar ialah jalan yang terbaik bagi siapa saja yang menginginkan kebaikan dunia dan akhiratnya.
Dari shahabat Shuhaib bin Sinan, Rasulullah saw bersabda :
“Sungguh mengagumkan urusan orang mukmin, sungguh semua urusannya baik baginya, yang demikian itu tidaklah dimiliki seorang pun kecuali hanya orang yang beriman. Jika mendapat kebaikan (kemudian) ia bersyukur, maka itu merupakan kebaikan baginya, dan jika keburukan menimpanya (kemudian) ia bersabar, maka itu merupakan kebaikan baginya.” (HR. Muslim)
Setiap amalan akan diketahui pahalanya kecuali kesabaran, karena pahala kesabaran itu, tanpa batas. Sebagaimana firman Allah SWT “Sesungguhnya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan ganjaran/pahala mereka tanpa batas.” (Az Zumar: 10)
Coba kita renungkan, bukankah kita selalu mampu untuk bisa sabar dalam menerima ujian-Nya yang berupa nikmat hidup? Mkaa sudah seharusnya kita juga harus bisa sabar dalam menerima unjian-Nya yang berupa kehilangan nikmat hidup, istilahnya, jangan mau terima yang enak-enak saja.
Jadi kita sebaiknya harus bisa bersabar dalam menghadapi segala macam ujian dalam hidup kita, terutama setelah kita mengetahui keutamaan besar yang Allah SWT janjikan bagi hamba-Nya yang bersabar.
Dewi Yana
http://www.jalandakwahbersama.wordprss.com
Alhamdulillah,, buku ke dua saya ”Ditolong Allah dengan Tawakal” dengan kata pengantar dari Dr. Muhammad Syafii Antonio, MEc. telah terbit.
Bergabunglah di Milis Jalan Dakwah Yahoogroups, untuk mendapatkan kiriman tulisan materi dakwah langsung ke alamat email anda.
http://jalandakwahbersama.wordpress.com
Read more ...Dalam kehidupan ini, terkadang Allah SWT melapangkan dan menyempitkan urusan kita, sebenarnya Allah melapangkan kita, supaya kita tidak selalu dalam berada dalam kesempitan dan Allah menyempitkan kita supaya kita tidak hanyut dalam kelapangan. Allah SWT mengubah-ubah keadaan kita dari kelapangan pada kesempitan, sedih ke gembira, dari sehat ke sakit, dari kaya ke miskin, dari terang ke gelap, supaya kita mengerti bahwa kita tidak terbebas dari hukum ketentuan-Nya, dan supaya kita selalu berdiri diatas landasan LAA HAULA WALA QUWWATA ILLA BILLAH (tidak ada daya untuk mengelakkan sesuatu dan tidak ada kekuatan untuk melaksanakan sesuatu, kecuali dengan pertolongan Allah)
Mengutip Kitab Al Hikam, Ibn Atha Illah al-Sakandari, Abu Bakar Assiddiq ra berkata, ”kami diuji dengan kesukaran, maka kami tahan, sabar, tetapi ketika diuji dengan kesenangan atau kelapangan kami hampir tidak sabar atau tidak tahan” Karena itu bagi beberapa orang arif, jika merasa lapang lebih khawatir/takut daripada jika berada dalam kesempitan, karena didalam masa kelapangan, hawa nafsu dapat lebih berperan mengambil bagiannya sedangkan dalam masa sempit, hawa nafsu lebih sulit memperdaya.
Namun bagi sebagian orang, justru merasa nyaman-nyaman saja dengan ujian kelapangan yang diberikan Allah, dan kadang ada yang terhanyut dalam ujian kelapangan yang diberikan-Nya, hingga menomor duakan Allah atau bahkan yang terparah melupakan Allah, Sang Pemberi Nikmat dan Kelapangan. Setelah Allah mencabut ujian kelapangan dan menggantinya dengan ujian kesempitan, maka barulah orang itu sadar dan kembali mengingat Allah.
Tidak sedikit dari kita yang tidak mampu menghargai keberadaan Allah dikala senang, disaat lapang, dan baru kembali mengingat-Nya, mencari-Nya, mendekati-Nya, saat berada dalam kesulitan/kesempitan. Apabila kita tidak ingin, diingatkan oleh Allah melalui ujian kesempitan, ujian kesusahan, maka ingatlah Allah selagi kita berada dalam kelapangan dan kemudahan.
Tunaikanlah semua kewajiban kita dengan sebaik-baiknya, jangan sampai kita melupakan fitrah kita diciptakan-Nya, yaitu untuk mengabdi kepada-Nya, seperti tertulis dalam firman-Nya di surah Adz Dzariyat ayat 56 Allah swt berfirman : ”Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku/mengabdi kepada-Ku”
Mengutip Al Hikam, Ibn Athaillah al Sakandari, Wahb bin Munabbiih berkata, Allah swt berfirman : “Hai anak Adam, ta’atilah perintah-Ku dan jangan engkau beritahukan kepada-Ku apa yang menjadi hajat kebutuhan yang baik bagimu (yakni engkau jangan mengajari kepada-Ku apakah yang baik bagimu). Sesungguhnya Aku telah mengetahui kepentingan hamba-Ku. Aku memuliakan siapa yang patuh pada perintah-Ku dan menghina siapa yang meremehkan perintah-Ku. aku tidak menghiraukan kepentingan hamba-Ku sampai hamba-Ku memperhatikan hak-Ku (yakni memperhatikan kewajibannya terhadap Aku)”
Dengan memperhatikan Firman Allah tersebut diatas, sebaiknya kita meyakini, bahwa sebenarnya, hidup kita susah atau senang, sebenarnya itu sangat terkait dan tergantung pada seberapa besar keimanan kita kepada Allah dan pada seberapa besar kita menempatkan Allah dalam hati, sudahkah menjadi prioritas utama? Karena semua Firman Allah pasti benarnya. Kita ingin hidup kita berjalan mulus, rezeki lancar, dapat meraih cita-cita, tapi kita tidak mementingkan Allah dan mengabaikan Allah yang Maha Pemberi Segala.
Sebenarnya Allah swt, memberikan kita ujian kesulitan, kesempitan, itu untuk kebaikan kita sendiri, untuk menyadarkan kita dari kelalain jiwa dan ketahuilah Allah swt tidak pernah membuat hamba-Nya menderita, kita menderita karena ulah kita sendiri.
Buku ke dua saya : “Ditolong Allah dengan Tawakal” dengan Kata Pengantar dari Dr. Muhammad Syafii Antonio, MEc, telah terbit dan dapat dibeli di seluruh Toko Buku Gramedia.
http://jalandakwahbersama.wordpress.com
Read more ...
Ada beberapa teman yang bertanya pada saya, kenapa saya mengusung tema tasawuf dalam buku dan atau tulisan-tulisan saya, sedangkan tasawuf itu jalan yang cukup berat ditempuh, karena banyak cobaannya.
Sejujurnya saya sendiri juga tidak tahu, mengapa hati dan pikiran ini hanya tergerak, tertuju dan condong pada ilmu tasawuf. Saya selalu tergetar dan kadang sampai menangis bila membaca satu bahasan tasawuf. Saya tahu, mempelajari dan menulis tentang tasawuf, bukan hal yang mudah dilakukan, banyak sekali rintangan dan cobaan, tapi entah kenapa hati ini tetap merasa nyaman mempelajari dan membagi ilmu ini lewat tulisan.
Mungkin karena perjalanan hidup saya selama ini, yang Alhamdulillah, ditakdirkan Allah SWT banyak ujiannya, dimana nyaris seumur hidup saya, selalu saya lalui dengan rahmat-Nya itu (ujian adalah rahmat-Nya).
Pernah pada suatu waktu, saya ragu untuk menulis tentang tasawuf, karena takut akan cobaan, takut akan ujian yang datang, terkait dengan tulisan-tulisan saya. Dan saya pernah niat berhenti menulis tentang tasawuf. Tapi Subhaanallah, disaat saya ragu, Allah SWT memberikan suatu perasaan sedih yang sangat luar biasa. Sedih karena saya merasa tidak mempercayai Allah SWT, yang selama ini selalu menemani saya dalam melalui segala hal dalam kehidupan saya, sedih dan merasa bersalah sama Allah SWT, karena menyangsikan kasih sayang-Nya. Bukankah selama ini Allah yang membantu saya melalui semua?
Bukankah selama ini Allah SWT lah yang menemani saya dalam segala keadaan, tidak pernah meninggalkan saya dan tidak pernah mengabaikan saya? Bukankah Allah tidak pernah membiarkan saya melalui semua ujian-Nya sendirian? Bukankah saya ini, berada dalam jaminan dan pengawasanNya? Dalam tahajut, saya sampai menagis yang sangat hebat, saya benar-benar merasa jahat, karena tidak mempercayai Allah SWT, tidak percaya pada janji-Nya, bahwa Allah tidak akan memberikan cobaan, melebihi kemampuan hamba-Nya. Saya merasa, telah menjadi hamba yang sangat jahat kepada Allah, padahal Allah selalu baik pada saya dan yang selalu sayang sama saya.
Saya bertanya pada diri saya sendiri, hamba macam apa saya ini? takut akan ujian-Nya, cemas akan sesuatu yang belum terjadi? Dimana iman saya? Dimana ketauhidan dan ketawakkalan saya? Kalau saya benar-benar kuat iman, dan benar dalam tauhid dan ketawakkan saya, tentunya hal ini tidak akan terjadi?
Saat itu saya benar-benar sedang mengalami kemerosotan iman yang luar biasa. Tapi Alhamdulillah, Allah SWT menyadarkan saya dan menguatkan saya. Memberi ketenangan dan kekuatan untuk melanjutkan belajar dan menulis tentang tasawuf. Kemudian entah bagaimana, seperti ada kekuatan, ketenangan yang sulit saya ungkapkan dan tangan ini seperti tidak mau berhenti menulis dan semua tulisan, seperti mengalir begitu saja, sepertinya selalu ada saja yang mau saya tulis.
Dan ya, memang benar, ujian tasawuf memang benar-benar berat dan terus menerus, juga sangat beragam, selalu datang silih berganti. Alhamdulillah sampai sekarang, saya baik-baik saja dan bahkan Subhaanallah, saya sangat bersyukur kepada Allah SWT yang telah memilihkan jalan ini untuk saya. Saya sangat bersyukur kepada Allah SWT yang telah mengajarkan saya, melalui buku yang saya tulis, Allah SWT mengajarkan saya melalui materi-materi tulisan yang saya tulis. Saya bersyukur kepada Allah SWT, yang telah menggerakkan hati dan pikiran saya untuk condong pada tasawuf. Dan besyukur pada Allah SWT yang telah membiasakan saya dengan ujian-ujian-Nya, menggembleng saya dengan banyaknya dan beragamnya ujian.
Terkait dengan uraian diatas, berikut ini adalah bahasan tentang hikmah ujian, dimana sebenarnya, kalau kita diuji oleh Allah SWT berarti kita telah dipilih-Nya, untuk dinaikkan ke tingkat yang lebih tinggi yang telah disiapkan-Nya untuk kita.
Semua kejadian di muka bumi adalah atas kehendak dan kuasa Allah. Tidak satupun kejadian yang terlepas dari kendali-Nya. Daun kering yang tertiup angin, kemudian jatuh entah di mana, adalah atas kuasa dan dalam pantauan-Nya. Angin bertiup, awan berarak-arak, matahari bersinar, semuanya atas perintah dan kemauan-Nya. Semua adalah takdir dan iradahnya.
Cobaan atau ujian adalah rekayasa Ilahiyah untuk menyeleksi hamba-hamba-Nya. Cobaan diberikan oleh Allah dengan maksud untuk meningkatkan kualitas hidup manusia. Bagi yang lulus akan naik derajat. Sebaliknya, bagi mereka yang tidak lulus ada dua alternatif pilihan, yaitu tetap ditempat atau justru melorot jatuh ke derajat yang lebih rendah.
Dengan kata lain, tidak ada satupun manusia di muka bumi ini dibiarkan oleh Allah berlalu tanpa mendapatkan ujian. Apalagi bagi mereka yang telah mengaku sebagai orang yang beriman, maka pengakuan itu perlu pembuktian. Hanya melalui ujian yang datang silih berganti, seseorang dapat membuktikan keimanannya kepada Allah SWT. Dan Allah telah menegaskan dalam firman-Nya : ”Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan mengatakan, `Kami telah beriman,’ sedangkan mereka tidak diuji lagi?” (QS Al-Ankabuut: 2)
Ujian yang diberikan kepada manusia itu beragam, ada yang langsung, ada yang tidak langsung. Ada yang mengenai dirinya, keluarganya, atau harta bendanya. Ada yang terasa berat, tapi ada pula yang ringan-ringan saja. Ada yang berupa kesengsaraan, tapi tidak sedikit yang berupa kenikmatan. Tergantung pada siapa yang akan diuji, dan tentu saja itu semua terserah pada keputusan Allah.
Yang penting bagi kita adalah perasaan dan sikap kita dalam menjalani ujian Sebaiknya kita selalu mempersiapkan diri dengan sebaik-baiknya. Mempersiapkan mental dan keimanan kita, agar bila suatu waktu ujian datang menghampiri kita, kita telah siap. Karena ujian kenaikan tingkat, biasanya datang tanpa pemberitahuan dan tidak disangka-sangka datangnya. Kalau kita telah siap menerimanya, maka kita akan menjalani ujian itu dengan penuh semangat, tidak ada keluh-kesah, karena kita menyadari bahwa tiada ujian yang ringan, apalagi untuk ujian kenaikan tingkat.
Seharusnya kita bersemangat dan bergembira manakala menerima ujian dari Allah SWT. Karena hanya melalui ujian itu, tingkatan iman kita bisa meningkat. Semakin banyak ujian yang bisa kita lewati, berarti kesempatan untuk naik tingkat semakin besar. Itu artinya bahwa Allah mencintai kita, menginginkan agar kita naik tingkat secara cepat. Rasulullah saw bersabda : “Tiada henti-hentinya cobaan akan menimpa orang mukmin dan mukminat, baik mengenai dirinya, anaknya, atau hartanya sehingga ia kelak menghadap Allah SWT dalam keadan telah bersih dari dosa (HR Tirmidzi). .
Dalam sebuah hadits yang shahih disebutkan, jika Allah rindu kepada hamba yang dicintai-Nya, maka Dia akan memerintahkan kepada malaikat untuk mengirimkan sebuah paket hadiah berupa ujian. Dalam sebuah hadits Qudsi, Allah SWT berfirman : “Pergilah kepada hamba-Ku, lalu timpakanlah berbagai ujian kepadanya, karena Aku ingin mendengarkan rintihannya.” (HR Thabrani dari Abu Umamah)
Rintihan hamba Allah yang mencintai dan dicintai Allah itu, tentu saja bukan berupa keluh-kesah, histeria, apalagi berupa umpatan. Rintihannya tidak lain berupa doa, dzikir, wirid, munajat dan taqarrub Ilallah. Rintihan semacam inilah yang selalu dirindukan oleh Allah SWT.
Cobaan atau ujian, tentu saja bertingkat sesuai dengan kualitas iman seseorang. Semakin tinggi tingkatannya, semakin berat pula ujiannya. Sebaliknya, bagi mereka yang imannya masih rendahan, tentu saja materi yang diujikan juga ringan. Dalam hal ini Rasulullah saw pernah menggambarkan tingkatan ujian itu Sebagai berikut : ”Tingkat berat - ringannya ujian, disesuaikan dengan kedudukan manusia itu sendiri. Orang yang paling berat menerima ujian adalah para Nabi, kemudian orang yang lebih dekat derajatnya kepada mereka berurutan secara bertingkat. Orang diuji menurut tingkat ketaatan kepada agamanya. Jika ia sangat kukuh kuat dalam agamanya, diuji pula oleh Allah sesuai dengan tingkat ketaatan kepada agamanya. Demikian bala dan ujian itu senantiasa ditimpakan kepada seorang hamba sampai ia dibiarkan berjalan dimuka bumi tanpa dosa apapun.” (HR. Tirmidzi)
Semakin tinggi kita memanjat pohon, semakin banyak angin yang menerpa. Jika tidak hati-hati, bisa jatuh lagi ketanah, dan lebih sakit. Sama halnya dengan tingkat keimanan kita. Semakin tinggi tingkatnya, maka semakin banyak tantangan, semakin banyak cobaan dan ujian yang datang silih berganti. Jika kita sanggup menyelesaikannya, maka kedudukan kita menjadi lebih tinggi lagi.
Apakah sekarang ini Allah tengah menguji dan memberikan cobaan kepada kita? Jika ya, maka bersyukurlah. Jadikanlah cobaan itu sebagai batu loncatan untuk meraih kesuksesan yang jauh lebih baik. .Jadikanlah ujian dan cobaan itu sebagai kesempatan untuk meningkatkan kualitas iman. Jadikan cobaan itu sebagai alat untuk melebur dosa-dosa kita, sebab setiap cobaan yang diterima dengan lapang dada akan mendatangkan pahala dan menebus dosa.
Rasulullah saw bersabda: “Tak seorang muslim pun yang ditimpa gangguan semisal tusukan duri atau yang lebih berat daripadanya, melainkan dengan ujian itu Allah menghapuskan perbuatan buruknya serta menggugurkan dosa-dosanya sebagaimana pohon kayu yang menggugurkan daun-daunnya.” (HR Bukhari dan Muslim).
DEWI
http://groupsyahoo.com/group/jalandakwah
http://jalandakwahbersama.wordpress.com
Read more ...
Dalam hidup ini kita harus menetapkan batasan terendah sebagai seorang mukmin, yaitu “meyakini Allah sedang melihat kita” karena bila kita masih berada dibawah batasan ini, berarti kita termasuk golongan yang lalai. Kita semua mengetahui bahwa Allah SWT : Al-Bashir (Maha Melihat) dan Al-Syahid (Maha menyaksikan).
Meyakini Allah sedang melihat kita, disebut juga dengan kesadaran muraqabah, Pengertian muraqabah adalah : menerapkan kesadaran bahwa Allah selalu melihat dan mengawasi kita dalam segala keadaan. Bahwa Allah selalu mengetahui apa yang kita rasakan, ucapkan dan kita perbuat.
Bila kita tidak bisa menerapkan keyakinan bahwa Allah sedang melihat kita, (muraqabah), maka kita akan menjadi hamba yang lupa akan pengawasan Allah, karena kita mengira bahwa Allah tidak mengetahui apa yang kita kerjakan. Sehingga ada dari kita yang sering berdusta/berbohong, hingga berbohong menjadi suatu hal yang sudah biasa dilakukan dan yang terparah bahkan tidak ada rasa canggung dan tidak merasa berdosa bila telah melakukan suatu kebohongan baik untuk hal kecil maupun besar, Dan pada umumnya, orang yang telah berbohong/berdusta, akan cenderung melakukannya lagi, lagi, dan lagi.
Mereka yang berbohong/berdusta/mengatakan sesuatu yang tidak benar, biasanya malu untuk mengakuinya, karena gengsi, memikirkan takut apa penilaian orang padanya bila mengetahui kebohongannya dan takut nama baiknya tercemar. Walaupun sebenarnya dia sadar bahwa kebohongan/ dusta yang dikatakannya itu, kadang telah membawa kesulitan bagi orang lain serta merugikan orang lain. Terutama apabila kebohongannya itu lebih menjurus kepada sebuah fitnah, misalnya dengan mengatakan kebohongan, menuduh seseorang melakukan sesuatu yang tidak pernah dilakukannya. Ini tingkat kebohongan yang sudah parah, karena kebohongan yang seperti ini sama saja dengan fitnah, dan fitnah itu bisa jadi senjata yang sangat menghancurkan.
Mungkin bagi yang melakukan kebohongan/dusta, baik yang kecil atau besar, lupa bahwa ada Allah yang Maha Menyaksikan segalanya, seperti tertulis dalam firman-Nya: “kamu sekali-kali tidak dapat bersembunyi dari penyaksian pendengaran, penglihatan dan kulitmu terhadapmu, bahkan kamu mengira bahwa Allah tidak mengetahui kebanyakan dari apa yang kamu kerjakan”. (Q.S. Fushshilat : 22)
Allah menciptakan telinga, mata dan kulit yang selalu menyertai kita untuk mengawasi semua gerak-gerik kita dimana pun kita berada. Sadarilah, bahwa anggota tubuh kita itu akan melaporkan semua aktivitas kita kepada Allah pada hari penyaksian nanti. Sebagaimana tertulis dalam firman-Nya : “sehingga apabila mereka sampai ke neraka, pendengaran, penglihatan dan kulit mereka menjadi saksi terhadap mereka tentang apa telah mereka kerjakan” (Q.S. Fushshilat : 20).
Mengutip buku Ketika Allah Berbahagia, dr Abu Syadi khalid : Diceritakan oleh sahabat Anas bin Malik ra, sebagai berikut : suatu hari kami duduk bersama-sama Rasulullah saw, kami lihat Beliau tertawa, kemudian Beliau bertanya kepada kami, tahukah kalian apa yang menyebabkanku tertawa ? Kami menjawab, Allah dan Rasul-Nya lebih tahu. Rasul berkata, saya tertawa karena dialog seorang hamba dengan Tuhannya (di hari pembalasan).
Hamba itu berkata : wahai Tuhan, tidakkah Engkau akan menyelamatkanku dari kezaliman ? Tuhan menjawab, Ya. Kemudian hamba itu berkata, saya tidak akan menerima tuduhan atasku kecuali dengan bedasarkan saksi. Tuhan menjawab : Cukup dirimu sendiri dan malaikat pencatat amal yang akan menjadi saksi. Setelah itu mulut hamba tersebut ditutup dan Tuhan mulai menanyai anggota tubuh hamba tersebut. “Berkatalah”, maka anggota-anggota tubuh itu mengisahkan semua amal perbuatan hamba tersebut. Kemudian mulut hamba tersebut diperkenankan untuk berbicara kembali, maka (sambil marah) mulut itu berkata kepada anggota-anggota badan yang lain, kalian adalah penghianat dan akan binasa, dulu didunia aku telah membela kalian.
Jadi, bila ada dari kita yang kadang masih suka berbohong/berdusta, baik dalam hal kecil maupun besar, sebaiknya segeralah bertaubat, dan mulai menerapkan batasan terendah sebagai seorang muslim, agar kita tidak menjadi hamba Allah yang lalai. Dan cobalah untuk mengucapkan tiga kata-kata berikut ini, disertai dengan pemahaman yang mendalam : Allahu Ma’ii (Allah bersamaku) Allahu Nazhirii (Allah melihatku) Allahu Syaahidii (Allah Menyaksikanku).
Cobalah baca wirid itu berulang-ulang, Insya Allah kita bisa merasakan kehadiran dan pengawasan Allah, serta benar-benar merasakan Allah melihat segala apa yang kita kerjakan, seperti yang tertuilis dalam firman-Nya di surah Al Hadid ayat 4 :
“Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam hari; Kemudian Dia bersemayam di atas ’Arsy . Dia mengetahui apa yang masuk ke dalam bumi dan apa yang keluar daripadanya dan apa yang turun dari langit dan apa yang naik kepadanya . Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan” (QS. Al Hadid 4)
Dewi Yana
http://groupsyahoo.com/group/jalandakwah
jalandakwahbersama.wordpress.com
Read more ...