Bismillaahirrahmaanirrahiim. Allaahumma shalli wasallim wabaarik ’alaa sayyidinaa Muhammadin wa ’alaa aali sayyidinaa Muhammadi. Astaghfirullahal a’dzhiim wa atuubu ilaih.
Kekayaan dan kesuksesan kadang membuat sebagian orang lupa bahwa dia tidak akan selamanya hidup di dunia. Hingga tidak sedikit dari mereka yang hidupnya diisi oleh hal-hal yang tidak bermanfaat. Sebagian orang itu tidak mampu menyadari bahwa setiap detik yang ia lewati sebenarnya sangat berharga, karena waktu yang telah lewat tidak akan pernah bisa kembali lagi. Nantinya, yang ada hanyalah penyesalan apabila sebagian besar waktu kita hidup didunia ini, kita isi dengan hal-hal yang tidak berguna atau hal-hal yang tidak membawa kemaslahatan bagi dunia-akhirat kita.
- Membuat hati condong pada akhirat hingga berbuah ketaatan
- Mendorong kita untuk bersiap-siap menghadapi kematian sebelum datangnya.
- Memendekkan angan-angan untuk lama tinggal di dunia yang fana ini, kerana panjang angan-angan merupakan sebab paling besar lahirnya kelalaian.
- Menjauhkan diri dari cinta dunia, dan qana’ah dengan yang sedikit, serta ridha dengan pembagian rezeki yang ditentukan Allah
- Meringankan seorang hamba dalam menghadapi ujian dunia, dengan menyadari bahwa hidup didunia ini hanya sementara, dan akhiratlah tempat kembali nanti, jadi segala macam kesulitan didunia ini, hanya sementara.
- Mencegah kerakusan dan ketamakan terhadap nikmat duniawi.
- Sebagai pendorong untuk bertaubat dan melakukan perbaikan terhadap kesalahan dan dosa dimasa lalu.
- Melembutkan hati, dan memberi semangat untuk mendalami agama dan menghapuskan keinginan hawa nafsu.
- Membuahkan sikap rendah hati (tawadhu’), tidak sombong, dan tidak berlaku zalim.
- Mendorong sikap toleransi, mema’afkan dan menerima kesalahan dan kelemahan orang lain.
- Ziarah kubur. Nabi SAW bersabda, " Sesungguhnya dahulu aku melarang kalian menziarahi kuburan, tetapi sekarang Muhammad telah memperoleh ijin untuk menziarahi kuburan ibunya, karena itu berziarahlah kalian; sesungguhnya ziarah kubur itu mengingatkan akhirat. (HR Muslim, Abu Daud, Tirmidzi dan an-Nasa’i, lafazh hadits ini menurut riwayat Tirmidzi)
- Melihat mayat ketika dimandikan.
- Menyaksikan orang-orang yang tengah sekarat dan menuntun mereka dengan kalimat syahadat.
- Mengiringi jenazah, menshalatinya, serta ikut ke pemakaman, saat jenazah dimakamkan
- Membaca Al-Qur’an, terutama ayat-ayat yang mengingatkan akan kematian dan sakratul maut
- Uban dan Penyakit, kedua hal ini merupakan peringatan untuk kita.
- Fenomena alam yang dijadikan Allah SAW seperti gempa, gunung meletus, banjir, badai dan sebagainya. Semua untuk mengingatkan para hamba akan kematian
Sikap qana’ah didefinisikan sebagai sikap merasa cukup, ridha atau puas atas karunia dan rezeki yang diberikan Allah SWT Qana’ah ialah kepuasan hati dengan rezeki yang ditentukan Allah.
- Menerima dengan rela akan apa yang ada.
- Memohonkan kepada Allah tambahan yang pantas, dan berusaha.
- Menerima dengan sabar akan ketentuan Allah.
- Bertawakal kepada Allah.
- Tidak tertarik oleh tipu daya dunia
Bahwa Rasulullah SAW bersabda: Sesungguhnya beruntung orang yang sudah masuk Islam, yang rezekinya mencukupi (dan tidak berlebihan) dan yang Allah menjadikannya qana’ah dengan apa diberikan kepadanya. (Muslim)
Bahwa Nabi SAW. bersabda: Tangan di atas adalah lebih baik dari tangan di bawah. Hendaklah kamu muliakan dengan orang-orang yang di bawah tanggunganmu. Sebaik-baik sedekah ialah dari harta yang lebih (yang kamu atau orang di bawah tanggunganmu tidak memerlukannya). Barangsiapa yang menjaga kehormatan dengan tidak meminta-minta maka Allah akan memelihara kehormatannya. Barangsiapa yang tidak bergantung harap kepada manusia, maka Allah akan mencukupkan keperluannya. (Bukhari dan Muslim]
Dari Abu Hurairah r.a. dari Nabi SAW bersabda: "Bukannya yang dinamakan kaya itu karena banyaknya harta tetapi yang dinamakan kaya (yang sebenarnya) ialah kayanya jiwa." (Muttafaqu �alaih)
Ayat diatas menerangkan bahwa fitrahnya manusia mencintai harta dan apa-apa yang diingini. Dan dalam hadistnya Rasulullah SAW bersabda Jika seorang anak Adam memiliki emas sebanyak dua lembah sekalipun maka dia akan (berusaha) mencari lembah yang ketiga. Perut anak Adam tidak akan pernah puas sehingga dipenuhi dengan tanah. (Riwayat Bukhari).
Pengertian Tawadhu’ adalah rendah hati, tidak sombong. Pengertian yang lebih dalam adalah kalau kita tidak melihat diri kita memiliki nilai lebih dibandingkan hamba Allah yang lainnya. Orang yang tawadhu’ adalah orang menyadari bahwa semua kenikmatan yang didapatnya bersumber dari Allah SWT. Yang dengan pemahamannya tersebut maka tidak pernah terbersit sedikitpun dalam hatinya kesombongan dan merasa lebih baik dari orang lain, tidak merasa bangga dengan potrensi dan prestasi yang sudah dicapainya. Ia tetap rendah diri dan selalu menjaga hati dan niat segala amal shalehnya dari segala sesuatu selain Allah. Tetap menjaga keikhlasan amal ibadahnya hanya karena Allah.
http://jalandakwahbersama.wordpress.com
Read more ...Ridha bermakna menerima semua realita takdir dan ketentuan Allah dengan senang hati, ikhlas, lapang dada, bahagia, tanpa merasa kecewa atau marah. Walaupun ketentuan Allah tersebut tidak sesuai dengan keinginan kita dan kadang membawa kita pada kesedihan. Saya mengatakan demikian, karena kadang realita kehidupan memang ada yang membawa kita pada kekecewaan dan kesedihan. Tapi kalau kita bisa ridha menerima semuanya dan mengembalikan semua kejadian pada Penguasa Segala Kejadian (Allah), maka kita akan terbebas dari rasa kekecewaan dan kesedihan hingga kita pun bisa berlapang dada menerima kenyataan hidup, ridha menerima ketentuan-Nya. Karena sesungguhnya, tidak ada ketentuan-Nya yang buruk, semua pasti ada hikmahnya, hanya saja memang kadang butuh waktu bagi kita untuk memahami, hikmah apa yang terkandung dalam setiap ketentuan-Nya.
http://jalandakwahbersama.wordpress.com
Read more ...’’Semua yang ada di bumi itu akan binasa. Dan tetap kekal Dzat Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan.’’ (QS Al-Rahman: 26-27). Hakikat zuhud bukanlah meninggalkan dunia, namun tidak meletakkan hati padanya. Zuhud bukan menghindari kenikmatan duniawi, tetapi tidak meletakkan nilai yang tinggi padanya.
- Tidak bergembira dengan apa yang ada dan tidak bersedih karena hal yang hilang.
- Sama saja di sisinya orang yang mencela dan mencacinya, baik terkait dengan harta maupun kedudukan.
- Hendaknya senantiasa bersama Allah dan hatinya lebih didominasi oleh lezatnya ketaatan. Karena hati tidak dapat terbebas dari kecintaan. Apakah cinta Allah atau cinta dunia. Dan keduanya tidak dapat bersatu
|
“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebahagian kamu menggunjing sebahagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.”
|
1. Ghibah menurut bahasa ialah: membicarakan orang lain tanpa sepengetahuannya baik isi pembicaraan itu disenanginya ataupun tidak disenanginya, kebaikan maupun keburukan.
2. Secara definisi: Seorang muslim membicarakan saudaranya sesama muslim tanpa sepengetahuannya tentang hal-hal keburukannya dan yang tidak disukainya, baik dengan tulisan maupun lisan, terang-terangan maupun sindiran. Sebagaimana disebutkan dalam hadits bahwa Nabi saw pada suatu hari bersabda:
Tahukah kalian apa itu ghibah? Jawab para sahabat : Allah dan rasul-Nya yang lebih mengetahui. Maka kata Nabi saw: “engkau membicarakan saudaramu tentang apa yang tidak disukainya. Kata para sahabat: Bagaimana jika pada diri saudara kami itu benar ada hal yang dibicarakan itu? Jawab Nabi saw: Jika apa yang kamu bicarakan benar-benar ada padanya maka kamu telah meng-ghibah-nya, dan jika apa yang kamu bicarakan tidak ada padanya maka kamu telah membuat kedustaan atasnya. (HR Muslim/2589, Abu Daud 4874, Tirmidzi 1935)
Bentuk-Bentuk Serta Jenis-Jenis Ghibah
1. Aib dalam agama. Seperti kata-katamu pada sesama muslim: Dia itu fasiq, atau fajir (suka berbuat dosa), pengkhianat, zhalim, melalaikan shalat, meremehkan yang najis, tidak bersih kalau bersuci, tidak memberikan zakat pada yang semestinya, dia suka mengghibah, dan sebagainya.
2. Aib Fisik. seperti kata-katamu pada sesama muslim: Dia itu buta, tuli, bisu, lidahnya cadel, pendek, jangkung, hitam, gendut, ceking, dan sebagainya.
3. Aib duniawi: seperti kata-katamu pada sesama muslim: Dia itu kurang ajar, suka meremehkan orang lain, tukang makan, tukang tidur, banyak omong, sering tidur bukan pada waktunya, duduk bukan pada tempatnya, dan sebagainya.
4.Aib karakter. seperti kata-katamu pada sesama muslim: Dia itu buruk akhlaqnya, sombong, pendiam, terburu-buru, lemah, lemah hatinya, sembrono, dan lain-lain.
5. Aib pakaian. Apabila kita membicarakan tentang bajunya yang kebesaran, kepanjangan, ketat, melewati mata kaki, kotor, dan sebagainya.
6. Prasangka ruruk tanpa alasan. merupakan ghibah hati.
7. Apabila kita mendengarkan ghibah. tanpa mengingkari/menegur, dan tidak meninggalkan orang-orang yang sedang ghibah, maka kita sudsah termasuk berghibah.
KIta harus bisa jadi hamba Allah yang selalu mensyukuri nikmat Allah. Jadilah Ahli Syukur, niscahya hidup kita selalu bahagia, karena bersyukur berarti mempertahankan nikmat. Pengertian syukur adalah : merasa dalam hati, menyebutnya dengan lidah dan mengerjakannya dengan anggota badan.