DOA

Posted by: in IBADAH Comment( 0)

Bismillaahirrahmaanirrahiim. Allaahumma shalli wasallim wabaarik ’alaa sayyidinaa Muhammadin wa ’alaa aali sayyidinaa Muhammadi. Astaghfirullahal a’dzhiim wa atuubu ilaih.

 Ya Allah, selamatkanlah kami semua dari semua dosa dan perbuatan kami sendiri. Selamatkanlah dari kehinaan dan permaluan. Selamatkanlah dari fitnah dunia dan segala apa yang membahayakannya. Ya Allah, Engkau yang menahan sesuatu dan menjaganya. Engkau jugalah pemilik segala pertolongan yang kami-kami butuhkan. Semua beban kami, kesulitan kami, kesusahan kami, hanya Engkau yang mampu mengatasinya. Hanya Engkau ya Allah. Tidak ada selain Engkau yang mampu menolong kami. Tidak ada satupun pertolongan manusia bisa menolong kami jika Engkau tiada menghendakinya.
 
Dan tidak ada satupun bahaya menimpa kami jika Engkau juga tiada mengizinkannya. Ya Allah, terlalu kecil semua urusan kami buat-Mu. Bahkan semua urusan manusia jika dikumpulkan dan dihadapkan pada-Mu, juga teramat kecil. Tiadalah salah kami yang lemah ini bener-benar bergantung kepada-Mu. Jika ada dosa kami, maka ampunilah ya Allah. Jangan sampai dosa kami menyengsarakan kami dunia akhirat.
 
Dan jika ada kebaikan dari diri kami, mudah-mudahan ia mencukupi buat diri kami mendapatkan rahmat-Mu. Wahai yang maha pengasih dan yang Maha Peyayang, sungguh kami sangat berhajat akan pertolongan-Mu. Ya Allah, betapa kami-kami ini sudah menjadi hamba-Mu yang lalai dan lalai terus. Diberi sedikit nikmat saja, sudah lari kami menjauh dari diri-Mu. Adalah pantas jika kemudian kesusahan dan kesulitan kembali Engkau hidangkan di kehidupan kami.
 
Ya Allah, kami pahami semua kesulitan kami adalah sebuah bentuk Kasih Sayang-Mu terhadap kami. Engkau tidak menghendaki kami susah di negeri yang kami tidak bisa lagi kembali. Engkau menghendaki kami bertaubat dan meniti jalan lagi kembali menuju diri-Mu. Ya Allah, bimbinglah kami agar kami bisa menemukan mutiara di balik semua kesusahan kami. Penuhi hati kami dengan kesabaran, keikhlasan menjalani hidup, dan niatan yang kuat untuk memenuhi hidup kami dengan ibadah kepada-Mu. Ya Allah, kepada siapa lagi kami mengadu jika bukan pada-Mu. Kepada siapa lagi kami bersandar jika bukan pada-Mu. Kepada siapa lagi kami berlindung dari segala ketakutan dan kegelisahan kami, jika bukan kepada-Mu.
 
Tunjukkan segala jalan buat kami untuk mendapatkan ridha-Mu dan Pertolongan-Mu. Ya Allah, sesiapa yang membaca doaku ini, lalu ia menambahinya dengan apa-apa yang menyesakkan dadanya, kabulkanlah. Sesiapa yang membaca doa ini, dan kemudian ia menambahi dengan apa yang memusingkannya, dan dengan apa yang menjadi hajatnya, kabulkanlah ya Allah. Engkau betul-betul Maha Kuasa atas segala sesuatu. Tidak ada yang tidak mungkin bagi diri-Mu. Kekuasaan-Mu tiada berbatas dan tiada bertepi.
 
Laa hawla walaa quwwata illaa billaahil ’aliyyil ’adzhiem, washallallaahu ’alaa sayyidinaa Muhammadin wa ’alaa aalihi wa shohbihii ajma’iin, walhamdulillaahi robbil ’aalamiin. (Ustadz Yusuf Mansur)
 
Read more ...

Kekayaan dan  kesuksesan kadang membuat sebagian orang lupa bahwa dia tidak akan selamanya hidup di dunia. Hingga tidak sedikit dari mereka yang hidupnya diisi oleh hal-hal yang tidak bermanfaat. Sebagian orang itu tidak mampu menyadari bahwa setiap detik yang ia lewati sebenarnya sangat berharga, karena waktu yang telah lewat tidak akan pernah bisa kembali lagi. Nantinya, yang ada hanyalah penyesalan apabila sebagian besar waktu kita hidup didunia ini, kita isi dengan hal-hal yang tidak berguna atau hal-hal yang tidak membawa kemaslahatan bagi dunia-akhirat kita.

Ketika seorang manusia melalaikan waktu hidupnya di dunia dengan hal-hal yang tidak berguna dan bahkan berbuat dosa, pada hakekatnya ia sedang menggiring dirinya kepada jurang kebinasaan. Karena tidak ada satu detik pun waktu terlewat melainkan ajal kian mendekat. 
 
Allah SWT mengingatkan itu dalam surah Al-Anbiya ayat 1, “Telah dekat kepada manusia hari menghisab segala amalan mereka, sedang mereka berada dalam kelalaian lagi berpaling (daripadanya).”
Allah SWT berfirman dalam surah Ibrahim ayat 44, “Dan berikanlah peringatan kepada manusia terhadap hari (yang pada waktu itu) datang azab kepada mereka, maka berkatalah orang-orang zalim: ‘Ya Tuhan kami, beri tangguhlah kami walaupun dalam waktu yang sedikit, niscaya kami akan mematuhi seruan Engkau dan akan mengikuti rasul-rasul….”
 
Coba tanyakan pada diri kita dengan jujur, seberapa banyak kita mengingat kematian dalam hidup kita? Hanya kita sendiri yang bisa menjawabnya. Jika kenyatannya kita masih sangat sedikit dalam mengingat kematian di tengah kesibukan dan semua urusan duniawi kita, maka segeralah ubah hal tersebut, karena kita tidak pernah tahu, kapan kematian mendatangi kita. Apa kita mau disaat kita dalam keadaan lalai, kematian datang menjemput?  
Karena mengingat mati akan membuat kita seakan punya rem dari berbuat dosa. hingga di mana saja dan kapan saja kita akan senantiasa akan selalu terarahkan untuk melakukan hal-hal yang bermanfaat untuk dunia dan akhirat kita.
 
Mengingat kematian juga merupakan satu cara yang sangat efektif untuk dapat menaklukan dan mengendalikan hawa nafsu kita. Perhatikan sabda Rasulullah SAW berikut ini : “Perbanyaklah mengingat sesuatu yang melenyapkan semua kelezatan, yaitu kematian!” (HR. Tirmidzi)
 
Ibnu Umar ra. berkata, “Aku datang menemui Nabi SAW. bersama sepuluh orang, lalu salah seorang dari kaum Anshar bertanya, ‘Siapakah orang yang paling cerdas dan paling mulia, wahai Rasulullah?’ Beliau menjawab, “Orang yang paling banyak mengingat kematian dan paling siap menghadapinya. Mereka itulah orang-orang cerdas. Mereka pergi dengan membawa kemuliaan dunia dan kemuliaan akhirat’.  (HR Ibnu Majah)

 

Ziarah kubur juga termasuk hal yang dapat mengingatkan kita pada akhirat (termasuk di dalamnya kematian, sebagai pintu menuju akhirat), sebagaimana sabda Nabi SAW :  Dahulu aku melarang kalian berziarah kubur, namun sekarang berziarahlah, karena hal itu akan menjadikan sikap hati-hati di dunia dan akan dapat mengingatkan pada akhirat.(HR Ahmad)
 
Sesungguhnya dahulu aku melarang kalian menziarahi kuburan, tetapi sekarang Muhammad telah memperoleh ijin untuk menziarahi kuburan ibunya, karena itu berziarahlah kalian; sesungguhnya ziarah kubur itu mengingatkan akhirat. (HR Muslim, Abu Daud, Tirmidzi dan an-Nasa’i, lafazh hadits ini menurut riwayat Tirmidzi)
 
Manfaat mengingat kematian adalah:  
  1. Membuat hati condong pada akhirat hingga berbuah ketaatan
  2. Mendorong kita untuk bersiap-siap menghadapi kematian sebelum datangnya.
  3. Memendekkan angan-angan untuk lama tinggal di dunia yang fana ini, kerana panjang angan-angan merupakan sebab paling besar lahirnya kelalaian.
  4. Menjauhkan diri dari cinta dunia, dan qana’ah dengan yang sedikit, serta ridha dengan pembagian rezeki yang ditentukan Allah
  5. Meringankan seorang hamba dalam menghadapi ujian dunia, dengan menyadari bahwa hidup didunia ini hanya sementara, dan akhiratlah tempat kembali nanti, jadi segala macam kesulitan didunia ini, hanya sementara.
  6. Mencegah kerakusan dan ketamakan terhadap nikmat duniawi.
  7. Sebagai pendorong untuk bertaubat dan melakukan perbaikan terhadap kesalahan dan dosa dimasa lalu.
  8. Melembutkan hati, dan memberi semangat untuk mendalami agama dan menghapuskan keinginan hawa nafsu.
  9. Membuahkan sikap rendah hati (tawadhu’), tidak sombong, dan tidak berlaku zalim.
  10. Mendorong sikap toleransi, mema’afkan dan menerima kesalahan dan kelemahan orang lain.
 Beberapa hal yang dapat  membuat kita mengingat kematian :    
  1. Ziarah kubur. Nabi SAW bersabda, " Sesungguhnya dahulu aku melarang kalian menziarahi kuburan, tetapi sekarang Muhammad telah memperoleh ijin untuk menziarahi kuburan ibunya, karena itu berziarahlah kalian; sesungguhnya ziarah kubur itu mengingatkan akhirat. (HR Muslim, Abu Daud, Tirmidzi dan an-Nasa’i, lafazh hadits ini menurut riwayat Tirmidzi)
  2. Melihat mayat ketika dimandikan.
  3. Menyaksikan orang-orang yang tengah sekarat dan menuntun mereka dengan kalimat syahadat.
  4. Mengiringi jenazah, menshalatinya, serta ikut ke pemakaman, saat jenazah dimakamkan
  5. Membaca Al-Qur’an, terutama ayat-ayat yang mengingatkan akan kematian dan sakratul maut
  6. Uban dan Penyakit, kedua hal ini merupakan peringatan untuk kita.
  7. Fenomena alam yang dijadikan Allah SAW seperti gempa, gunung meletus, banjir, badai dan sebagainya. Semua untuk mengingatkan para hamba akan kematian
Semoga Allah SWT menutup akhir hayat kita dengan Husnul Khatimah dan menerima semua amal shalih kita. Ya Allah yang Maha Menghidupkan dan yang Maha Mematikan, akhirilah hidup (wafatkanlah) kami dalam keadaan husnul khâtimah. Dan kami berlindung kepada-Mu dari keadaan sûul khâtimah, amin.
 
Dewi Yana
Read more ...

QANA’AH

Posted by: in TASAWUF Comment( 0)

Sikap qana’ah didefinisikan sebagai sikap merasa cukup, ridha atau puas atas karunia dan rezeki yang diberikan Allah SWT Qana’ah ialah kepuasan hati dengan rezeki yang ditentukan Allah.

Qana’ah itu mengandung lima perkara:
  1. Menerima dengan rela akan apa yang ada.
  2. Memohonkan kepada Allah tambahan yang pantas, dan berusaha.
  3. Menerima dengan sabar akan ketentuan Allah.
  4. Bertawakal kepada Allah.
  5. Tidak tertarik oleh tipu daya dunia
Cinta pada dunia dan ingin hidup dalam kemewahan, adalah salah satu penyebab yang bisa mengakibatkan hidup menjadi tidak tentram. Orang-orang yang cinta dunia akan selalu terdorong untuk memburu segala keinginannya meski harus menggunakan cara yang licik, curang, dengan  berbohong, korupsi, dan sebagainya. Semua itu karena orang yang cinta dunia  tidak pernah menyadari, sesungguhnya harta hanyalah ujian. Hingga ia tidak pernah merasa cukup dengan apa yang sudah dimilikinya dan masih selalu ingin menambahnya lagi, ini adalah sikap yang sangat jauh dari rasa syukur kepada Allah SWT.
 
Qana’ah bukanlah berarti  hilang semangat untuk berkerja lebih keras demi menambah rezeki. Malah, ia bertujuan supaya kita sentiasa bersyukur dengan rezeki yang dikurniakan Allah. Karena sikap qana’ah tidak berarti fatalis menerima nasib begitu saja tanpa ikhtiar. Orang-orang qana’ah bisa saja memiliki harta yang sangat banyak, namun semua itu bukan untuk menumpuk kekayaan
 
Nabi Muhammad SAW telah mengajarkan kepada kita bagaimana kita harus bersikap terhadap harta, yaitu menyikapi harta dengan sikap qana’ah (kepuasan dan kerelaan). Sikap qana’ah ini harus dimiliki oleh orang yang kaya maupun orang yang miskin adapun wujud qana’ah yaitu merasa cukup dengan pemberian Allah, tidak tamak terhadap apa yang dimiliki manusia, tidak iri melihat apa yang ada di tangan orang lain dan tidak rakus mencari harta benda dengan menghalalkan segala cara, sehingga dengan semua itu akan membuat orang merasa puas dan tidak mencari melebihi apa yang dibutuhkan, dan mencegah orang dari menurutkan hawa nafsu yang tidak pernah puas.
 
Rasulullah SAW telah mengajarkan  kita semua agar qana’ah, berikut beberapa hadits nya :
Perhatikan sabda Rasulullah SAW berikut ini: “Tidaklah kekayaan itu dengan banyak harta, tetapi sesungguhnya kekayaan itu ialah kekayaan jiwa.”  (Hadis riwayat Bukhari dan Muslim)
 
Rasulullah SAW bersabda:   “Jadilah kamu seorang yang wara’, nanti kam
u akan menjadi sebaik-baik hamba Allah, jadilah kamu seorang qana’ah, nanti kamu akan menjadi orang yang paling bersyukur kepada Allah, sedikitkanlah tertawa karena banyak tertawa itu mematikan hati.” (Hadis riwayat al-Baihaqi)
 
Dari Abu Muhammad yaitu Fadhalah bin Ubaid al-Anshari r.a. bahwa dia mendengar Rasulullah SAW bersabda: "beruntunglah kehidupan seseorang yang telah dikaruniai petunjuk untuk memasuki Agama Islam, sedang kehidupannya berada dalam keadaan cukup dan ia bersifat qana�ah (menerima)." (Hadis Hasan Shahih di sisi Imam Tirmidzi) .

 
Tentang sikap qana’ah, Ibnu Qudamah dalam Minhajul Qashidin menyampaikan hadits dalam Shahih Muslim dan yang lainnya, dari Amr bin Al-Ash r.a Rasulullah SAW bersabda: “Beruntunglah orang yang memasrahkan diri, dilimpahi rezeki yang sekedar mencukupi dan diberi kepuasan oleh Allah terhadap apa yang diberikan kepadanya.” (Diriwayatkan Muslim, At-Tirmidzi, Ahmad dan Al-Baghawy)
 
Dari �Abdullah bin �Amr r.a.:
Bahwa Rasulullah SAW  bersabda: Sesungguhnya beruntung orang yang sudah masuk Islam, yang rezekinya mencukupi (dan tidak berlebihan) dan yang Allah menjadikannya qana’ah dengan apa diberikan kepadanya. (Muslim)
 
Dari Hakim bin Hizam r.a. berkata:
Bahwa Nabi SAW. bersabda: Tangan di atas adalah lebih baik dari tangan di bawah. Hendaklah kamu muliakan dengan orang-orang yang di bawah tanggunganmu. Sebaik-baik sedekah ialah dari harta yang lebih (yang kamu atau orang di bawah tanggunganmu tidak memerlukannya). Barangsiapa yang menjaga kehormatan dengan tidak meminta-minta maka Allah akan memelihara kehormatannya. Barangsiapa yang tidak bergantung harap kepada manusia, maka Allah akan mencukupkan keperluannya. (Bukhari dan Muslim]
 
Ketahuilah sesungguhnya di dalam qana’ah, itu ada kemuliaan dan ketentraman hati karena sudah merasa tercukupi, ada kesabaran serta keridhaan terhadap pembagian rezeki yang telah diatur-Nya. Dan semua itu akan mendatangkan pahala di akhirat. Dan sesungguhnya dalam kerakusan dan ketamakan itu ada kehinaan dan kesusahan karena dia tidak pernah merasa puas dan cukup terhadap pemberian Allah.
 
Dalam kehidupan kita di dunia, sebaiknya kita melihat orang yang di bawah kita, dan dalam masalah kehidupan akhirat kita melihat orang yang di atas kita.   Hal ini sebagaimana telah ditegaskan Rasulullah SAW dalam hadits sebagai berikut: “Lihatlah orang yang dibawah kalian dan janganlah melihat orang di atas kalian, karena yang demikian itu lebih layak bagi kalian untuk tidak memandang hina nikmat Allah yang dilimpahkan kepada kalian.” (Diriwayatkan Muslim dan At-Tirmidzy)
Kekayaan bukanlah segalanya. kekayaan harta bukanlah kekayaan yang hakiki. kekayaan yang hakiki adalah saat jiwa (hati) kita penuh dengan hidayah Allah SWT.

Dari Abu Hurairah r.a. dari Nabi SAW bersabda: "Bukannya yang dinamakan kaya itu karena banyaknya harta tetapi yang dinamakan kaya (yang sebenarnya) ialah kayanya jiwa."   (Muttafaqu �alaih)
 
Allah SWT berfirman mengenai sifat dasar manusia dalam surat Al Imran ayat 14:  “Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga)”.

Ayat diatas menerangkan bahwa fitrahnya manusia mencintai harta dan apa-apa yang diingini. Dan dalam hadistnya Rasulullah SAW bersabda  Jika seorang anak Adam memiliki emas sebanyak dua lembah sekalipun maka dia akan (berusaha) mencari lembah yang ketiga. Perut anak Adam tidak akan pernah puas sehingga dipenuhi dengan tanah. (Riwayat Bukhari).
 Karena itulah qana’ah sangat diperlukan untuk mengatasi sifat dasar manusia yang tidak pernah cukup atas apa yang sudah dimiliki.
 
Allah SWT telah menciptakan dunia, untuk menguji siapa diantara hambanya yang terbaik amalnya, hal ini telah disebutkan dalam firman-Nya di surat Al Mulk ayat 2: “Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.”
 
Adapun makna ayat ini, sebagaimana yang telah dijelaskan oleh Al Hafidz Ibnu Katsier dalam tafsirnya bahwa “Allah telah menciptakan seluruh makhluk ini dari ketiadaan, untuk menguji jin dan manusia, siapakah diantara mereka yang paling baik amalnya.”
 
Siapapun yang ingin meraih ketenangan jiwa, kedamaian hati, maka qana’ah adalah jalannya. Karena sesungguhnya, ketenangan hati ada dalam sedikitnya keinginan.  Bila kita ingin meraih ketenangan hidup, marilah kita qana’ah terhadap pemberian dan pengaturan-Nya.
.
Dewi Yana
Read more ...

Pengertian Tawadhu’ adalah rendah hati, tidak sombong. Pengertian yang lebih dalam adalah kalau kita tidak melihat diri kita memiliki nilai lebih dibandingkan hamba Allah yang lainnya. Orang yang tawadhu’ adalah orang menyadari bahwa semua kenikmatan yang didapatnya bersumber dari Allah SWT.  Yang dengan pemahamannya tersebut maka tidak pernah terbersit sedikitpun dalam hatinya kesombongan dan merasa lebih baik dari orang lain, tidak merasa bangga dengan potrensi dan prestasi yang sudah dicapainya. Ia tetap rendah diri dan selalu menjaga hati dan niat segala amal shalehnya dari segala sesuatu selain Allah. Tetap menjaga keikhlasan amal ibadahnya hanya karena Allah.

Tawadhu ialah bersikap tenang, sederhana dan sungguh-sungguh menjauhi perbuatan takabbur (sombong), ataupun sum’ah ingin diketahui orang lain amal kebaikan kita.
Tawadhu merupakan salah satu bagian dari akhlak mulia, jadi sudah selayaknya kita sebagai umat muslim bersikap tawadhu, karena tawadhu merupakan salah satu akhlak terpuji yang wajib dimiliki oleh setiap umat islam. Perhatikan sabda Nabi SAW berikut ini : 
 
Rasulullah SAW bersabda: yang artinya "Tiada berkurang harta karena sedekah, dan Allah tiada menambah pada seseorang yang memaafkan melainkan kemuliaan. Dan tiada seseorang yang bertawadhu’ kepada Allah, melainkan dimuliakan (mendapat ’izzah) oleh Allah. (HR. Muslim).
 
’Iyadh bin Himar ra. berkata: Bersabda Rasulullah SAW: "Sesungguhnya Allah SWT telah mewahyukan kepadaku: "Bertawadhu’lah hingga seseorang tidak menyombongkan diri terhadap lainnya dan seseorang tidak menganiaya terhadap lainnya.(HR. Muslim).
 
Rasulullah SAW  bersabda,    “Sombong adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia.” (HR. Muslim)
 
Ibnu Taimiyah, seorang ahli dalam madzhab Hambali menerangkan dalam kitabnya, Madarijus Salikin bahwa tawadhu ialah menunaikan segala yang haq dengan bersungguh-sungguh, taat menghambakan diri kepada Allah sehingga benar-benar hamba Allah, (bukan hamba orang banyak, bukan hamba hawa nafsu dan bukan karena pengaruh siapa pun) dan tanpa menganggap dirinya tinggi.
 
Tanda orang yang tawadhu’ adalah disaat seseorang semakin bertambah ilmunya maka semakin bertambah pula sikap tawadhu’ dan kasih sayangnya. Dan semakin bertambah amalnya maka semakin meningkat pula rasa takut dan waspadanya. Setiap kali bertambah usianya maka semakin berkuranglah ketamakan nafsunya. Setiap kali bertambah hartanya maka bertambahlah kedermawanan dan kemauannya untuk membantu sesama. Dan setiap kali bertambah tinggi kedudukan dan posisinya maka semakin dekat pula dia dengan manusia dan berusaha untuk menunaikan berbagai kebutuhan mereka serta bersikap rendah hati kepada mereka.. Ini karena orang yang tawadhu menyadari akan segala nikmat yang didapatnya adalah dari Allah SWT, untuk mengujinya apakah ia bersykur atau kufur.
 
Perhatikan firman Allah berikut ini : "Ini termasuk kurnia Tuhanku untuk mencoba aku apakah aku bersyukur atau mengingkari (akan nikmat-Nya). Dan barangsiapa yang bersyukur maka sesungguhnya dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri dan barangsiapa yang ingkar, maka sesungguhnya Tuhanku Maha Kaya lagi Maha Mulia." (QS. An Naml: 40).”
 
Berikut beberapa ayat-ayat Al Quran yang menegaskan perintah Allah SWT untuk senantiasa bersikap tawadhu’ dan menjauhi sikap sombong, sebagai berikut :
 
 ”Dan janganlah kalian berjalan di atas bumi ini dengan menyombongkan diri, karena kalian tidak akan mampu menembus bumi atau menjulang setinggi gunung” (QS al-Isra-37). 
 
Firman Allah SWT lainnya: ”Negeri akhirat itu Kami jadikan untuk orang-orang yang tidak menginginkan kesombongan di muka bumi dan kerusakan di (muka) bumi. Dan kesudahan (yang baik) itu adalah bagi orang-orang yang bertakwa (QS al-Qashshash-83.)
 
Dan hamba-hamba Tuhan yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata (yang mengandung) keselamatan.(QS. Al Furqaan: 63)
 
Tidak diragukan lagi bahwa Sesungguhnya Allah mengetahui apa yang mereka rahasiakan dan apa yang mereka lahirkan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong. (QS: an-Nahl: 23)
 
Sesungguhnya orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan menyombongkan diri terhadapnya, sekali-kali tidak akan dibukakan bagi mereka pintu-pintu langitdan tidak (pula) mereka masuk surga, hingga unta masuk ke lubang jarum. Demikianlah Kami memberi pembalasan kepada orang-orang yang berbuat kejahatan. (QS: al-A’raf: 40)
 
Dan apabila dikatakan kepadanya: "Bertakwalah kepada Allah", bangkitlah kesombongannya yang menyebabkannya berbuat dosa. Maka cukuplah (balasannya) neraka Jahannam. Dan sungguh neraka Jahannam itu tempat tinggal yang seburuk-buruknya. (QS.Al-Baqarah : 206)

 
Berikut  beberapa contoh Ketawadhu’an Rasulullah SAW
 
1.      Anas ra jika bertemu dengan anak-anak kecil maka selalu mengucapkan salam pada mereka, ketika ditanya mengapa ia lakukan hal tersebut ia menjawab: Aku melihat kekasihku Nabi SAW senantiasa berbuat demikian. (HR Bukhari, Fathul Bari’-6247).
 
2.      Dari Anas ra berkata: Nabi SAW memiliki seekor unta yang diberi nama al-’adhba` yang tidak terkalahkan larinya, maka datang seorang ‘a’rabiy dengan untanya dan mampu mengalahkan, maka hati kaum muslimin terpukul menyaksikan hal tersebut sampai hal itu diketahui oleh nabi SAW, maka beliau bersabda: Menjadi haq Allah jika ada sesuatu yang meninggikan diri di dunia pasti akan direndahkan-Nya. HR Bukhari (Fathul Bari’-2872).
 
3.      Abu Said al-Khudarii ra pernah berkata: Jadilah kalian seperti Nabi SAW, beliau SAW menjahit bajunya yang sobek, memberi makan sendiri untanya, memperbaiki rumahnya, memerah susu kambingnya, membuat sandalnya, makan bersama-sama dengan pembantu-pembantunya, memberi mereka pakaian, membeli sendiri keperluannya di pasar dan memikulnya sendiri ke rumahnya, beliau menemui orang kaya maupun miskin, orang tua maupun anak-anak, mengucapkan salam lebih dulu pada siapa yang berpapasan baik tua maupun anak, kulit hitam, merah, maupun putih, orang merdeka maupun hamba sahaya sepanjang termasuk orang yang suka shalat.
Dan beliau SAW adalah orang yang sangat rendah hati, lembut perangainya, dermawan luar biasa, indah perilakunya, selalu berseri-seri wajahnya, murah senyum pada siapa saja, sangat tawadhu’ tapi tidak menghinakan diri, dermawan tapi tidak berlebih-lebihan, mudah iba hatinya, sangat penyayang pada semua muslimin. Beliau SAW datang sendiri menjenguk orang sakit, menghadiri penguburan, berkunjung baik mengendarai keledai maupun berjalan kaki, mengabulkan undangan dari para hamba sahaya siapapun dan dimanapun. Bahkan ketika kekuasaannya SAW telah meliputi jazirah Arabia yang besar datang seorang ‘A’rabiy menghadap beliau SAW dengan gemetar seluruh tubuhnya, maka beliau SAW yang mulia segera menghampiri orang tersebut dan berkata: Tenanglah, tenanglah, saya ini bukan Raja, saya hanyalah anak seorang wanita Quraisy yang biasa makan daging kering. (HR Ibnu Majah-3312 dari abu Mas’ud al-Badariiy)
 
Berbicara lebih jauh tentang tawadhu’, sebenarnya tawadhu’ sangat diperlukan bagi siapa saja yang ingin menjaga amal shaleh atau amal kebaikannya, agar tetap tulus ikhlas, murni dari tujuan selain Allah.  Karena memang tidak mudah menjaga keikhlasan amal shaleh atau amal kebaikan kita agar tetap murni, bersih dari tujuan selain Allah. Sungguh sulit menjaga agar segala amal shaleh dan amal kebaikan yang kita lakukan tetap bersih dari tujuan selain mengharapkan ridha-Nya. Karena sangat banyak godaan yang datang, yang selalu berusaha mengotori amal kebaikan kita. Apalagi disaat pujian dan ketenaran mulai datang menghampiri kita, maka terasa semakin sulit bagi kita untuk tetap bisa menjaga kemurnian amal shaleh kita, tanpa terbesit adanya rasa bangga dihati kita. Disinilah sangat diperlukan tawadhu’ dengan menyadari sepenuhnya, bahwa sesungguhnya segala amal shaleh, amal kebaikan yang mampu kita lakukan, semua itu adalah karena pertolongan dan atas ijin Allah SWT.
 
Tawadhu’ juga mutlak dimiliki bagi para pendakwah yang sedang berjuang meninggikan Kalimatullah di muka bumi ini, maka sifat tawadhu’ mutlak diperlukan untuk kesuksesan misi dakwahnya. Karena bila tidak, maka disaat seorang pendakwah mendapatkan pujian, mendapatkan banyak jemaah, dikagumi orang dan ketenaran mulai menghampirinya, tanpa ketawadhu’an, maka seorang pendakwah pun tidak akan luput dari berbangga diri atas keberhasilannya.
Dewi Yana

http://jalandakwahbersama.wordpress.com

Read more ...

RIDHA

Posted by: in TASAWUF Comment( 0)

Ridha bermakna menerima semua realita takdir dan ketentuan Allah dengan senang hati, ikhlas, lapang dada, bahagia, tanpa merasa kecewa atau marah. Walaupun ketentuan Allah tersebut tidak sesuai dengan keinginan kita dan kadang membawa kita pada kesedihan. Saya mengatakan demikian, karena kadang realita kehidupan memang ada yang membawa kita pada kekecewaan dan kesedihan. Tapi kalau kita bisa ridha menerima semuanya dan mengembalikan semua kejadian pada Penguasa Segala Kejadian (Allah), maka kita akan terbebas dari rasa kekecewaan dan kesedihan hingga kita pun bisa berlapang dada menerima kenyataan hidup, ridha menerima ketentuan-Nya. Karena sesungguhnya, tidak ada ketentuan-Nya yang buruk, semua pasti ada hikmahnya, hanya saja memang kadang butuh waktu bagi kita untuk memahami, hikmah apa yang terkandung dalam setiap ketentuan-Nya.

Dalam hadits atha’, Ibnu Abbas berkata: Ketika Rasulullah SAW menemui sahabat – sahabat Anshor, Beliau bersabda: ”apakah kamu orang – orang mukmin?” , lalu mereka diam,maka berkatalah Umar : “ Ya, Rasulullah”. Beliau SAW bersabda lagi: “ apakah tanda keimananmu?”, mereka berkata: “ kami bersyukur menghadapi kelapangan, bersabar menghadapi bencana, dan ridha dengan qada’ ketentuan Allah”, kemudian Nabi SAW bersabda lagi:”Orang- orang mukmin yang benar, demi Tuhan Ka’ba”.
 
Dalam hadits diatas diterangkan dengan jelas bahwaridha merupakan tanda dari keimanan seseorang, ridha adalah suatu maqam mulia karena didalamnya terhimpun tawakal dan sabar.
 
Namun kadang ada orang yang salah persepsi dalam memahami ridha dengan suatu pengertian pasrah tanpa usaha. Padahal menyerah pasrah dalam suatu keadaan, yang berupa pasrah secara total tanpa usaha sama sekali, tanpa ikhtiar sedkitpun untuk mencari jalan keluar, adalah pemahaman yang salah dari ridha. Karena ridha bukan berarti menerima begitu saja segala hal yang menimpa kita tanpa ada usaha sedikit pun untuk mengubahnya.
 
Ridha tidak sama dengan pasrah. Ketika sesuatu yang tidak diinginkan datang menimpa kita, kita memang dituntut untuk ridha menerimanya. Dalam pengertian kita meyakini bahwa apa yang telah menimpa kita itu adalah takdir yang telah Allah tetapkan untuk kita, namun kita tetap dituntut untuk berusaha. Allah berfirman, ’’…..Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri…..’’(QS Ar Ra’d  ayat 11).
 
Jadi, ridha menuntut adanya usaha aktif, dan itu sangat berbeda dengan sikap pasrah yang menerima kenyataan begitu saja tanpa ada usaha untuk mengubahnya. Walaupun di dalam ridha terdapat makna yang hampir sama dengan pasrah yaitu menerima dengan lapang dada suatu perkara, namun di dalam ridha dituntut adanya usaha untuk mengubah kondisi yang ada, misalnya saat kita sakit, kita wajib berusaha dan berikhtiar untuk sembuh dengan cara berobat.
 
Berikut beberapa keutamaan ridha dalam Al Quran.
 
Jikalau mereka sungguh-sungguh ridha dengan apa yang diberikan Allah dan Rasul-Nya kepada mereka dan berkata “cukuplah Allah bagi kami, Allah akan memberikan sebagian dari karunia-Nya dan demikian (pula) Rasul-Nya, sesungguhnya kami adalah orang-orang uyang berharap kepada Allah” (tentunya yang demikian itu lebih baik bagi mereka) (QS. At Taubah ayat 59)
 
Balasan mereka di sisi Tuhan mereka ialah syurga ’Adn yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah ridha terhadap mereka dan merekapun ridha kepadaNya. Yang demikian itu adalah (balasan) bagi orang yang takut kepada Tuhannya. (QS.Al bayyinah ayat 8)  
 
Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepda Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai didalamnya selama-lamanya. Mereka kekal didalamnya. Itulah kemenangan yang besar. (QS. At Taubah ayat 100)
 
 “….Allah ridha terhadap mereka, dan merekapun merasa puas terhadap (limpahan rahmat)-Nya. Mereka itulah golongan Allah. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya hizbullah itu adalah golongan yang beruntung.” (QS. Al Mujaadilah ayat 22)
 
Ridha Allah kepada hamba-Nya adalah berupa tambahan kenikmatan, pahala, dan ditinggikan derajat kemuliaannya. Sedangkan ridha seorang hamba kepada Allah mempunyai arti menerima dengan sepenuh hati aturan dan ketetapan Allah. Menerima aturan Allah ialah dengan melaksanakan segala perintah-Nya dan menjauhi semua larangan-Nya. Adapun menerima ketetapannya adalah dengan cara bersyukur ketika mendapatkan nikmat dan bersabar ketika ditimpa musibah.
 
Mudah-mudahan setelah kita mengetahui perbedan pengertian antara ridha dan pasrah, kita tidak akan lagi salah persepsi dalam memahaminya dan setelah kita mengetahui keutamaan ridha yang tertulis dalam Al Quran, semoga kita bisa menjadi hamba-Nya yang ridha dalam menerima segala ketantuan takdirnya, amiin.
 
Dewi Yana

http://jalandakwahbersama.wordpress.com

Read more ...

ZUHUD

Posted by: in TASAWUF Comment( 0)

’’Semua yang ada di bumi itu akan binasa. Dan tetap kekal Dzat Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan.’’ (QS Al-Rahman: 26-27). Hakikat zuhud bukanlah meninggalkan dunia, namun tidak meletakkan hati padanya. Zuhud bukan menghindari kenikmatan duniawi, tetapi tidak meletakkan nilai yang tinggi padanya.

Zuhud terdiri dari, zuhud yang terhadap yang haram dan zuhud terhadap segala urusan dunia yang tidak ada manfaatnya untuk kebaikan hidup di akhirat.
 
Zuhud terhadap yang haram hukumnya wajib. O rang-orang beriman harus zuhud atau meninggalkan segala sesuatu yang diharamkan Allah. Bahkan sifat-sifat orang beriman, bukan hanya meninggalkan yang diharamkan, tetapi meninggalkan segala sesuatu yang tidak berguna. Kualitas keimanan dan keislaman seseorang sangat terkait dengan kemampuannya dalam meninggalkan segala sesuatu yang tidak berguna. Allah swt. berfirman, “Dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna.” (Al-Mu’minun: 3). Rasulullah saw. bersabda, ”Diantara tanda kebaikan Islam seseorang adalah meninggalkan hal-hal yang tidak berguna.” (HR At-Tirmidzi)
 
Imam Al-Ghazali menyebutkan ada 3 tanda-tanda zuhud, yaitu:
  1. Tidak bergembira dengan apa yang ada dan tidak bersedih karena hal yang hilang.
  2. Sama saja di sisinya orang yang mencela dan mencacinya, baik terkait dengan harta maupun kedudukan.
  3. Hendaknya senantiasa bersama Allah dan hatinya lebih didominasi oleh lezatnya ketaatan. Karena hati tidak dapat terbebas dari kecintaan. Apakah cinta Allah atau cinta dunia. Dan keduanya tidak dapat bersatu
Orang yang zuhud adalah orang beriman yang beramal shaleh di dunia, memakmurkan bumi, dan berbuat untuk kemaslahatan ummat, hati nya tidak tertipu pada dunia. Mereka beramal shaleh dengan tulus karena mengharapkan ridha Allah semata. Saat di hadapannya terbentang lebar kesempatan untuk meraih dunia dengan segala macam perbendaharaannnya  baik itu berupa kekuasaan, harta, kedudukan, dan segala fasilitas lainnya, ia tidak tergoda dan tetap mengambil hanya seperlunya saja.
 
Objek yang dituju oleh hati ialah apa yang dipujanya (ma’bud), karena itulah dikatakan, apa saja yang lebih kita cintai melebihi cinta kita kepada Allah, maka apa yang kita cintai itu, akan menjadi Tuhan kita, dan kita akan menjadi budak dari apa yang kita inginkan/cintai.   Kalau kita mencintai dunia, maka kecintaan kita pada dunia akan membuat kita jadi menurutkan hawa nafsu kita dalam berlomba mendapatkannya.  Padahal Alah SWT telah mengingatkan kita semua dalam kitab suci Al Quran, bahwa kehidupan dunia hanyalah sementara dan memerintahkan kita untuk berlaku zuhud akan kehidupan duniawi didalam banyak ayat seperti :
 
Perhatikan firman Allah SWT di surah Al Imran ayat 14-15 :
“Dijadikan indah pada pandangan manusia kecintaan pada apa yang diingini,
yaitu wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang.Itulah kesenangan hidup didunia; dan disisi Allahlah tempat kembali yang baik ( surga ) (14) Katakanlah :” Inginkah aku kabarkan kepadamu apa yang lebih baik dari yang demikian itu?” Untuk orang-orang yang bertaqwa ( kepada Allah ) pada sisi Rabb mereka ada surga yang mengalir dibawahnya sungai-sungai mereka kekal didalamnya . Dan ( mereka dikaruniai ) istri-istri yang  disucikan serta keridhaan Allah Dan Allah Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya.”  (Surat Ali Imran: 14-15).
 
Dan perhatikan juga firman-Nya  di surah Al Ankabut ayat 64 :
“Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main. Dan
sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan, kalau mereka mengetahui.” (Surat al-‘Ankabuut : 64).
 
Rasulullah SAW telah menganjurkan dalam banyak hadits untuk berlaku zuhud terhadap kehidupan dunia, seperti :
 
Rasulullah SAW bersabda :
“ Berlakukah engkau didalam kehidupan duniamu layaknya seorang asing atau seorang musafir dalam perjalananya “ (Diriwayatkan oleh al-Bukhari didalam Kitab ar-Riqaaq)
 
Rasulullah saw. Bersabda, ”Zuhudlah terhadap apa yang ada di dunia, maka Allah akan mencintaimu. Dan zuhudlah terhadap apa yang ada di sisi manusia, maka manusia pun akan mencintaimu”  (HR Ibnu Majah, tabrani, Ibnu Hibban dan Al-Hakim)
 
Dan Nabi SAW  menganjurkan untuk senantiasa cenderung kepada kehidupan akhirat, karena kehidupan akhirat tersebut adalah kampung yang kekal, sementara kehidupan dunia jika dibandingkan dengan kehidupan akhirat, hanya sebagaimana yang disabdakan oleh Rasulullah SAW : “ Demi Allah, kehidupan dunia jika dibandingkan dengan kehidupan akhirat hanya seumpama jika seseorang diantara kalian memasukkan ujung jari telunjuknya kedalam lautan, maka perhatikanlah tetesan yang kembali kedalam lautan tersebut “ (Diriwayatkan oleh Muslim didalam kitab al-Jannah, bab. Fanaa’u ad-Dunya wa bayaan al-Hasyr yaum al-Qiyamah).
 
Hadits diatas menerangkan, bahwa jika dibandingkan antara kehidupan dunia yang sangat singkat dan yang pasti punah, dengan kehidupan akhirat yang kekal dan abadi, maka hanyalah seumpama setetes air yang menetes dari jari telunjuk, yang dijatuhkan ke lautan yang luas.
 
Dunia itu sendiri tidaklah teramat sangat tercela, sebab dunia adalah tempat bercocok tanam atau ladang akhirat. Akan tetapi, cinta pada dunia dan keterikatan kepadanya adalah sebuah rintangan
 
Diriwayatkan oleh Umar ibn “Auf, Nabi Muhammad saw bersabda : “Aku bersumpah demi Allah, bahwa aku tidak khawatir atas kemiskinanmu. Akan tetapi aku khawatir bahwa dunia terbentang luas dan terbuka bagimu, sebagaimana ia juga terbentang dan terbuka luas bagi orang-orang sebelummu. Engkau akan saling berlomba-lomba mengejarnya, sebagaimana dilakukan oleh orang-orang sebelummu. Dunia akan menghancurkanmu, sebagaimana ia juga telah menghancurkan orang-orang sebelummu”. (Bukhari Muslim)
 
Dengan memperhatikan sabda Nabi SAW diatas, cobalah kita tanyakanlah secara jujur pada diri kita sendiri, apakah kita termasuk orang yang berlomba-lomba mengejar dunia? Hanya kita yang tahu jawabannya.
Pola hidup materialisme mendominasi kehidupan. Tolok ukur kesuksesan diukur dari sejauh mana berhasil meraup sebanyak-banyak materi, tanpa memperhatikan ukuran agama dan moral . Dengan ataupun tanpa kita sadari kita kadang terpana oleh gemerlapnya kehidupan dunia yang mengakibatkan (dengan atau tanpa kita sadari), kita telah diperbudak oleh hawa nafsu kita. 
 
Contoh sederhananya, seperti kita cenderung ingin selalu menikmati kesenangan dan memenuhi berbagai macam keinginan duniawi kita. Apalagi bila orang-orang disekitar kita, lebih cenderung memilih gaya hidup dalam kemewahan, mengikuti trend, hingga kadang ada dari kita yang sering memaksakan diri mengikuti perbudakan hawa nafsu kita, agar kita tidak dibilang ketinggalan jaman dan supaya tidak kehilangan harga diri (gengsi) dihadapan teman-teman kita. Bagi kita yang tidak bisa hidup dalam kesederhanaan dan qanaah (merasa cukup dengan pemberian Allah), tentunya akan sangat sulit menolak berbagai keinginan duniawi yang memang sangat menggoda.
 
Biasanya manusia kalau sudah menginginkan sesuatu akan cenderung berupaya sekuat tenaga untuk mencapai apa yang diinginkannya. Dalam usaha yang dilakukannya, kadang manusia suka menempuh berbagai cara agar apa yang diinginkannya terwujud, walaupun sebenarnya dalam hati, ia mengetahui bahwa apa yang dilakukannya adalah salah dan menjadikannya jauh dari Allah, tapi semua itu terkalahkan oleh keinginan memperturutkan hawa nafsunya. Seperti sering kita saksikan di televisi, dimana kasus korupsi terjadi dimana-mana, itu semua karena memperturutkan hawa nafsu dan tidak adanya kezuhudan.
 
Cinta dunia dan rakus terhadap harta adalah penyakit yang paling berbahaya. Segala bentuk kejahatan berawal dari kerakusan terhadap dunia dan pola hidup materialisme: perzinaan dan seks bebas, penjualan bayi, narkoba, perjudian, riba, korupsi, dan lain sebagainya. Karenanya, Rasulullah SAW. mengingatkan akan bahaya rakus terhadap harta, ”Tidaklah dua serigala lapar yang dikirim pada kambing melebihi bahayanya daripada kerakusan seseorang terhadap harta dan kedudukan.” (HR At-Tirmidzi)
 
Zuhud terhadap dunia, sangat diperlukan untuk mengatasi semua itu. Berikut sedikit cara agar kita bisa zuhud pada dunia :
 
1.            Senantiasa mengingat kematian sebagai penghancur segala kesenangan duniawi,.
2.            Membaca ayat-ayat Al Quran dan merenungkannya. Allah berfirman tentang berbagai kesenangan dalam kehidupan dunia yang sedikit (qalil) dan menggambarkan akhirat sebagai yang terbaik (khair) seperti dalam surah Al An’am (6) ayat 32:       Dan tiadalah kehidupan dunia ini, selain dari main-main dan senda gurau belaka. Dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Maka tidakkah kamu memahaminya?
 
3.            Zikir, merupakan metode yang paling efektif untuk membersihkan hati dan meraih kehadiran Ilahi. Tujuan segenap ibadah ialah mengingat Allah dan hanya dengan terus menerus mengingat Allah (zikir) sajalah yang bisa melahirkan cinta kepada Allah serta menyelamatkan hati dari kecintaan dan keterikatan pada dunia fana ini..
4.            Pengabdian penuh khidmat, yaitu saat-saat beribadah, kita lakukan dengancara tulus ikhlas sepenuh hati kepada-Nya. Insya Allah, Allah akan menganugerahkan kehidupan yang manis, bersih, bahagia dan baik
 
Dewi Yana
 
Read more ...

GHIBAH

Posted by: in HIKMAH Comment( 0)

 

Allah SWT telah menerangkan dengan sangat jelasnya, bahwa sangat tercelanya ghibah, seperti tertulis dalam firman-Nya di Al Quran, surah Al Hujurat (49) ayat 12 :
“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebahagian kamu menggunjing sebahagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.”
 
Makna Ghibah

1. Ghibah menurut bahasa ialah:  membicarakan orang lain tanpa sepengetahuannya baik isi pembicaraan itu disenanginya ataupun tidak disenanginya, kebaikan maupun keburukan.

2. Secara definisi: Seorang muslim membicarakan saudaranya sesama muslim tanpa sepengetahuannya tentang hal-hal keburukannya dan yang tidak disukainya, baik dengan tulisan maupun lisan, terang-terangan maupun sindiran. Sebagaimana disebutkan dalam hadits bahwa Nabi saw pada suatu hari bersabda:

Tahukah kalian apa itu ghibah? Jawab para sahabat : Allah dan rasul-Nya yang lebih mengetahui. Maka kata Nabi saw: “engkau membicarakan saudaramu tentang apa yang tidak disukainya. Kata para sahabat: Bagaimana jika pada diri saudara kami itu benar ada hal yang dibicarakan itu? Jawab Nabi saw: Jika apa yang kamu bicarakan benar-benar ada padanya maka kamu telah meng-ghibah-nya, dan jika apa yang kamu bicarakan tidak ada padanya maka kamu telah membuat kedustaan atasnya. (HR Muslim/2589, Abu Daud 4874, Tirmidzi 1935)

Bentuk-Bentuk Serta Jenis-Jenis Ghibah

1. Aib dalam agama. Seperti kata-katamu pada sesama muslim: Dia itu fasiq, atau fajir (suka berbuat dosa), pengkhianat, zhalim, melalaikan shalat, meremehkan yang najis, tidak bersih kalau bersuci, tidak memberikan zakat pada yang semestinya, dia suka mengghibah, dan sebagainya.

2. Aib Fisik. seperti kata-katamu pada sesama muslim: Dia itu buta, tuli, bisu, lidahnya cadel, pendek, jangkung, hitam, gendut, ceking, dan sebagainya.

3. Aib duniawi: seperti kata-katamu pada sesama muslim: Dia itu kurang ajar, suka meremehkan orang lain, tukang makan, tukang tidur, banyak omong, sering tidur bukan pada waktunya, duduk bukan pada tempatnya, dan sebagainya.

4.Aib karakter. seperti kata-katamu pada sesama muslim: Dia itu buruk akhlaqnya, sombong, pendiam, terburu-buru, lemah, lemah hatinya, sembrono, dan lain-lain.

5. Aib pakaian. Apabila kita membicarakan tentang bajunya yang kebesaran, kepanjangan, ketat, melewati mata kaki, kotor, dan sebagainya.

6. Prasangka ruruk tanpa alasan. merupakan ghibah hati.

7. Apabila kita mendengarkan ghibah. tanpa mengingkari/menegur, dan tidak meninggalkan orang-orang yang sedang ghibah, maka kita sudsah termasuk berghibah.
 
Dalam hadits lain Rasulullah saw bersabda : ”Orang yang menggunjing orang lain seperti orang yang memasang ketapel. Ia membidik kekanan dan ke kiri. Demikianlah ia melemparkan kebaikan-kebaikannya” Beliau juga bersabda : ”orang yang menggunjing saudaranya berarti menginginkan kejelekannya. Pada hari kiamat, Allah menghentikan langkahnya diatas jembatan jahanam, hingga keluar apa yang pernah dikatakannya.” Selanjutnya sabda beliau : ”Ghibah itu adalah jika engkau menyebut-nyebut saudaramu tentang hal-hal yang tidak disukainya, baik tentang kekurangan pada tubuhnya, nasabnya, perbuatannya, perkataannya, agamanya, maupun dunianya, hingga pakaiannya, jubahnya, dan kendaraannya.”    Dalam hadis lain Rasullullah saw bersabda : ”Barang siapa yang menggunjing seorang ulama, pada hari kiamat akan dituliskan pada wajahnya, :”Inilah orang yang berputus asa dari rahmat Allah” (mengutip dari Imam a-Ghazali, Menyingkap Hati menghampiri Ilahi).
 
Muslim dengan muslim lainnya itu bersaudara, tidak boleh mengkhianati, mendustakan dan menghina. Setiap muslim dengan muslim lainnya haram kehormatan, harta dan darahnya. Taqwa itu disini ! (sambil nabi SAW menunjuk pada dadanya) Cukup disebut seorang itu jahat jika ia mencaci saudaranya
Sesama muslim (HR. Muslim 2564)
 
Barangsiapa yang membela kehormatan saudaranya sesama muslim, maka Allah SWT akan membelanya dari neraka kelak di hari Kiamat.” (HR. Tirmidzi 1932, Ahmad 6/450
 
Jadi bila masih ada dari kita yang kadang masih suka menggunjing, maka sadarlah segera, karena ghibah merupakan dosa besar yang hanya akan diampuni, setelah orang yang kita gunjing memaafkan kita. Dan biasanya, kebanyakan dari kita, sangat malu untuk meminta maaf dan mengakui kesalahan kita,  pada orang yang kita gunjing..
 
Dewi Yana
 
Read more ...

BERSYUKUR

Posted by: in HIKMAH Comment( 0)

KIta harus bisa jadi hamba Allah yang selalu mensyukuri nikmat Allah. Jadilah Ahli Syukur, niscahya hidup kita selalu bahagia, karena bersyukur berarti mempertahankan nikmat. Pengertian syukur adalah : merasa dalam hati, menyebutnya dengan lidah dan mengerjakannya dengan anggota badan.

Maksudnya adalah, merasa dalam hati, misalnya mensyukuri semua nikmat hidup, nikmat rezeki, kepandaian dan seluruh alam semesta serta segala nikmat yang tidak terhitung jumlahnya yang Allah karuniakan dan sediakan untuk seluruh hamba-Nya.. Mengucapkan dengan lidah, bersukur, Alhamdulillah dengan sepenuh hati.
Dan mengerjakan dengan anggota badan adalah, kita mensyukuri segala nikmat Allah untuk kita, sejak mula awal penciptaan kita, dimana Allah SWT selalu mengurus kita, memenuhi segala hajat kebutuhan kita, bahkan disaat kita belum mampu menyadari apa-apa saja yang menjadi hajat kebutuhan kita, Allah SWT telah melengkapinya. Ini semua wajib kita syukuri, dengan menjalankan semua perintah dan larangan-Nya dengan sebaik-baiknya, dengan tulus ikhlas, tanpa pamrih, tanpa merasa keberatan dan tidak bermalas-malasan.
 
Allah SWT sangat Maha Pengasih dan Penyayang pada kita semua, kita diperintah untuk mensyukuri nikmat Allah menurut kadar kekuatan yang diberikan Allah kepada kita, bukan sebanyak atau sebesar nikmat yang diberikan, sebab itu sangat tidak mungkin. Allah memberi nikmat yang besar sesuai dengan kebesaran Allah, sedangkan Kita diharuskan mensyukuri nikmat dari Allah menurut kadar kelemahan dan kemampuan Kita.
 
Ketahuilah : Tiada Allah memberikan suatu nikmat pada hamba-Nya, kemudian hamba itu mengucap Alhamdulillah melainkan nilai pujian Alhamdulillah itu jauh lebih besar dari nikmat yang diberikan itu. Nabi Dawud as berkata : Tuhanku, anak Adam ini telah Engkau beri pada tiap rambut ada nikmat diatas dan dibawahnya, maka bagaimana akan dapat menunaikan syukurnya kepada-Mu.  Jawab Allah : Hai Dawud, Aku memberi sebanyak-banyaknya dan rela menerima yang sedikit, dan untuk mensyukuri nikmat itu cukup bila engkau mengetahui bahwa nikmat yang ada padamu itu dari Aku. (mengutip buku Al Hikam, Ibn Athaillah al Sakandari).
 
Ayat-ayat dalam Al Quran yang memerintahkan kita mensyukuri nikmat Allah dapat dilihat di surah : 2:152, 2:172, 2:239, 3:43, 3:123, 3:144, 3:145, 5:6, 5:89, 7:58, 7:144, 7:189, 14:7, 16:121, 27:40, 28:17, 28:73, 29:17, 31:12, 34:13, 39:66
 
Sebaiknya kita jadi hamba Allah yang selalu mensyukuri nikmat yang diberikan Allah kepada kita. Jagalah diri kita agar tidak menjadi hamba Allah yang tidak bisa mensyukuri nikmat dari Allah.
Dan bila ada dari kita yang masih merasa kurang puas dengan nikmat rezeki yang sedikit yang telah dikaruniakan Allah untuk kita, dan sering mengeluh, seperti tidak cukup dan sebagainya, maka sadarlah segera, karena Nabi Muhammad saw bersabda, “Siapa yang tidak mensyukuri nikmat yang sedikit, maka tidak akan dapat mensyukuri nikmat yang banyak. Dan siapa yang tidak berterima kasih kepada sesama manusia, berarti tidak syukur kepada Allah” (Hadits Nabi saw dikutip dari Al Hikam, Ibn Athaillah al Sakandari)
 
DEWI YANA
 
Read more ...